Dinasti Ummawiyah
Nama daulah Ummawiyah
itu berasal dari nama “ Umaiyah ibnu “Abdi syams ibnu ‘Abdi Manaf” yaitu salah
seorang pemimpin kabilah Quraisy dizaman Jahiliyah, dan ia selalu bersaing dan
berusaha merebut kepemimpinan dan kehormatan Hasyim Abdi Manaf dikalangan masyarakat
bangsanya. Pada keturunannya sangat menolak keras dengan ajaran nabi dan
menolak dengan tegas kekhalifahan atau kepemimpinan nabi Muhammad SAW. Bani
Ummawiyah baru masuk Islam setelah nabi Muhammad SAW dapat menaklukkan kota
Mekkah. Sepeninggalan Rasulullah keturunan Ummawiyah, mereka sudah menginginkan
kekhalifahan pengganti Rasulullah, tetapi mereka belum berani mengemukakan
dirinya pada masa Khalifah Abu Bakar ash Shidiq dan Umar bin Afwan. Setelah
wafatnya khalifah Umar bin Afwan, maka Bani Ummawiyah menyokong Ustman bin
Afwan untuk dijadikan menjadi khalifah pengganti Umar, dengan hasil Musyawarah,
sehingga berhasillah Ustman menjadi Khalifah pengganti Umar. Pada masa
pemerintahan Ustman inilah Muawiyah mencurahkan seluruh kekuatannya untuk memperkuat
dirinya dan menyiapkan kota Syam untuk dijadikan pusat kekuasaannya dikemudian
harinya.
Ketika Ali bin Abi
Thalib menjadi Khalifah menggantikan ustman, Muawiyah sebagai gubenur di Syam,
membentuk golongan orang-orang yang menolak tegas perintah Khalifah Ali, dia
pun mendesaknya untuk mengusut kematian Ustman bin Afwan. Desakan Muawiyah ini
pun tumpah saat perang Sifiin, yakni pertempuran antara pihak Muawiyah dengan
pihak Ali bin Abi Thalib. Pada perang ini pun terjadi genjatan senjata atau tahkim
sehingga pihak Ali pun terbagi menjadi dua, yakni pihak syiah atau pengikut
Ali, dengan pihak Khawarij atau penentang Ali, dan pihak Muawiyah itu sendiri.
Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H salah seorang Khawarij membunuh Ali, sehingga
dengan wafatnya Ali bin Abi Thalib ini berakhir pula masa pemerintahan
Khalifaur Rasydin, dan menjadi jalan yang baik untuk Muawiyah melancarkan
rencananya untuk dapat menjadi Khalifah. Pada tahun 661 M/41 H maka menjadi
tahun persatuan (Am al Jama’ah) atau
tahun dimana Muawiyah melakukan sumpah jabatan yang dilakukan didepan dua putra
Ali, yakni Hasan dan Husein, dan rakyat banyak.
Khalifah Dinasti Ummayah
Dinasti Ummaiyah ini
yang berlangsung selama ±91 tahun, yakni dari tahun 41-132 H, yang diperintah
sebanyak 14 khalifah yang beribukota di Damaskus. Pada periode Bani Umawiyah
ini dibagi menjadi tiga bagian periode, yakni permulaan, keemasan, dan keruntuhan.
Pada masa permulaan, yakni ditengarai meletakkan dasar pemerintahan,
pembunuhan Husein , perampasan kota Madinah, Penyerbuan Mekkah pada masa Yazid
I, dan perselisihan diantara suku-suku Arab pada masa Muawiyah II. khalifah
pada bani Ummawiyah, yakni:
1. Muawiyah bin Abu Sufyan(40-60H)
2. Yazid bin Muawiyah (60-63 H)
3. Muawiyah II (63 H)
4. Marwan bin Al Hakam (64-65H)
5. Abdul Malik bin Marwan (65-86 H)
6. Al Walid bin Abdul Malik(86-96 H)
7. Sulaiman bin Abdul Malik(96-99 H)
8. Umar bin Abdul Aziz(99-101 H)
9. Yazid bin Abdul Malik( 101-105H)
10. Hisyam bin Abdul Malik(105-125 H)
11. Al Walid bin Yazid bin Abdul Malik(125 H)
12. Yazid III(126 H)
13. Ibrahim(126 H)
14. Marwan bin Muhammad (128-132H)
Sistem Pemerintahan Pada
Masa Daulah Ummayah
Dalam sistem kekuasaan
pada masa Khulafaur Rasydun yang bermula demokrasi, dengan pemindahan ditangan
Muawiyah berpindah menjadi monarki hereditis (kerajaan turun Menurun). Sikap
ini pun diawali saat Muawiyah bin abu sufyan mengangakat anaknya Yazid untuk
dijadikan menjadi Khalifah berikutnya. Sikap ini pun dipengaruhi oleh keadaan
Syria, saat ia menjabat sebagai gubenur disana, yang dipengaruhi sistem Monarki
heredatis di Persia dan kekaisaran Byzantium. Pada masa Muawiyah I dimulai perubahan-perubahan
administrasi pemerintahan, mulai dari pasukan pengawal raja, mendirikan
balai-balai pendaftaran dan juga menaruh perhatian atas jawatan pos yang
menjadi suatu susunan yang teratur yang menghubungkan bagian negara. Seperti
dewan Sekretaris Negara (diwan al kitabah) yang terdiri dari lima
sekretaris, yakni; katib ar rasail, katib al kharaj, katib al jund, katib al
syurthah, dan katib al qadhi’. Yang mana dari sekeretaris negara itu
mengurus administrasi pemerintahan. Dan diangkat pula seorang amir untuk
dijadikan pemimpin disetiap daerah. Pada Masa Abd. Malik ibn Marwan, yakni
khalifah ke-5 , pelaksanaan pemerintahan dibagi menjadi beberapa pokok, yakni[4];
kementrian pajak tanah (Diwan al Kharaj) yang tugasnya mengawasi tugas
Departemen Keuangan, kementrian pengesahan (Diwan Al Khatam) yang
bertugas (Diwan Ar Rasail) untuk mengontrol permasalahan-permasalahan
disetiap daerah, dan semua komunikasi dari para gubenur, kementrian urusan
perpajakan (Diwan Al Mustaghalat).
Perluasan wilayah pada,
kekuasaan bani Ummawiyah untuk daerah Timur dan juga Barat mencapai kegemilangan
pada masa Walid I pada masa ini pun ada pemimpin pasukan terkemuka
sebagai penakluk yaitu Qutaybah ibn Muslim, Muhammad ibn Qasim, dan Musa ibn
Nusayr. Didaerah Timur yang bisa ditaklukkan oleh bani Ummawiyah yakni
daerah Khurasan sampai ke Lahore di Pakistan, sedangkan di daerah Barat yakni
ke arah Byzantium. sedangkan pada masa Qutaybah bin Muslim, ia berhasil
menaklukkan Balk, Bukhara, Khawarazm, Farghana, dan hara, Khawarazm, Farghana,
dan Samarkhand. Sedangkan Muhammad Ibn Qasim melumpuhkan seluruh penjuru Sind
hingga Maltan (pusat haji terkenal orang India, didekat Punjab). Untuk Musa ibn
Nusayr yang melusakan daerah kekuasaannya di daerah Barat yakni aljazair
dan Maroko. Musa pun mengangkat Thariq bin Ziyad sebagai wakil utnuk memerintah
bagian itu. Dengan didorong kemenangan di Afrika Utara dan karena adanya
kerusuhan merebut kekuasaan dalam kerajaan Gothia di Spanyol. Setelah
mendengarkan kemenagan Thaariq dalam menaklukkan Spanyol, pasukan Musa
melebarkan kembali wilayah kekuasaan sampai ke Barcelona, Narbone, Cadiz, dan
Calica, lalu ke selatan Prancis.
Prinsip keuangan yang
dilakukan pada masa ini adalah mengikuti pada masa Khulaur Rasydun, yaitu
dengan penetapan pajak tanah, dan pajak perorangan untuk setiap individu
penghuni setiap daerah-daerah yang telah dikalahkan merupakan pemasukan sendiri
bagi pemerintahan Bani Ummawiyah. Hal ini pun untuk dapat kelancaran
penggajian bala tentara dan juga untuk menybarkan syiar Islam.
Perkembangan Peradaban
Pada Masa Dinasti Ummayah
Arsitektur
Beberapa hal yang
menonjol dari arsitektur Bani Ummawiyah yakni pembangunan kota-kota baru dan
kota-kota lama dengan gaya perpaduan persia, Romawi, dan Arab, dan juga
pada pembangunan masjid-masjid, seperti di Masjid Damaskus atas kreasi
arsitektur abu Ubaidillah ibn Jarrah , dengan gaya kubah-kubahnya yang
berukuran besar berbentuk tapak besi kuda bulat, dan disekiling masjid terdapat
empat mercusuar yang merupakan bangunan peninggalan Yahudi, tetapi empat
mercusuar hanya digunakan satu mercusuar yang terletetak ditenggara masjid
untuk Adzan.
Perdagangan
Untuk perdagangan pada
masa Bani Ummawiyah ini ada beberapa jalur untuk mencapai kemajuan
perekonomian, yakni melawati jalur darat dengan menggunakan Jalus Sutra
ke Tiongkok untuk perdaganan jenis Sutra, keramik, obat-obatan, dan wewangian.
Sedangkan yang lainnya yakni dengan jalur laut, untuk perdagangan
rempah-rempah, bumbu, kasturi, permata, logam mulia, yang ini pun dominan ke
arah negeri bagian Timur.
Runtuhnya Dinasti
Ummawiyah
Pada tokoh pergerakan
Abbasiyah yakni Ibrahim al Imam mengangkat Abu Muslim sebagai pemimpin di
Khurasan, dan diberikan kekuasaan untuk melakukan propaganda secara
terang-terangan, dan ia pun di beri kekuasaan untuk melakukan pembunuhan kepada
Masyarakat yang berbahasa Arab dan juga yang dicurigai dapat menggagalkan
misinya. Selama bertahun-tahun gerakan tersebut tanpa hambatan dari Dinasti
Ummawiyah. Ketika surat perintah pembunuhan yang dikirimkan oleh Ibrahim al
Imam kepada Abu Muslim jatuh kepada Marwan ibn Muhammad, bencana pun menimpa
Ibrahim al Imam di tangkap dan dipenjarakan di Haran setelah mengangkat As
Safah sebagai penggantinya. Ibrahim pun dibunuh 132 H, meskipun telah dibunuh,
akan tetapi langkah dari Marwan ibn Muhammad terlambat, karena sudah dikuasai
oleh pemberontak. Bahkan benteng-benteng Damaskus telah terpasang bendera hitam
Abbasiyah telah dikibarkan. Begitu juga di Hijaz, Syam, dan Irak. Pemberontak
syiah pun juga melanjutkan penyerbuan dari Khurasan hingga Irak, Syam, dan
Mesir. Ia pun tewas terbunuh di mesir. Dengan wafatnya Marwan ibn Muhammad,
maka berakhirlah kepemimpinan Dinasti Umawiyah.
Gerakan Perjalanan
Dinasti Abbasiyah
Pemerintahan Dinasti
Abbasiyah dapat dibagi dalam dua periode. Periode I adalah masa antara tahun
750-945 M, yaitu mulai pemerintahan Abu Abbas sampai al-Mustakfi. Periode II
adalah masa 945-1258 M, yaitu masa al-Mu’ti sampai al-Mu’tasim. Pembagian
periodisasi diasumsikan bahwa pada periode pertama, perkembangan diberbagai
bidang masih menunjukkan grafik vertikal, stabil dan dinamis. Sedangkan pada periode
II, kejayaan terus merosot sampai datangnya pasukan Tartar yang berhasil
mengancurkan Dinasti Abasiyyah.
Pada Pemerintahan
Abasiyyah periode I, telah mengembangkan kebijakan-kebijakan politik
diantaranya adalah:
a.
Memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Bagdad
b.
Memusnahkan keturunan Bani Umayyah
c.
Merangkul orang-orang persia, dalam rangka politik memperkuat diri, Abasiyyah
memberi peluang dan kesempatan yang besar kepada kaum Mawali
d. Menumpas
pemberontakan-pemberontakan
e.
Menghapus politik kasta
Dalam menjalankan
pemerintahan, Khalifah Dinasti Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh wazir
(perdana menteri) yang jabatannya disebut wizaraat. Wizaraat ini dibagi
menjadi 2 yaitu: pertama, wizaraat tafwid (memliki otoritas penuh dan
tak terbatas), waziraat ini memiliki kedaulatan penuh kecuali menunjuk
penggantinya. Kedua, wizaraat tanfidz (memiliki kekuasaan eksekutif
saja) wizaraat ini tidak memiliki inisiatif selain melaksanakan perintah
khalifah dan mengikuti arahannya.
Sedangkan untuk Model
pemerintahan yang diterapkan oleh Abasiyyah bisa dikatakan asimilasi dari
berbagai unsur. Ini terlihat jelas dari adanya periodesasi atau tahapan
pemerintahan Abasiyyah. Ciri-ciri yang menonjol pada masa pemerintahan Abasiyyah
yang tidak terdapat di zaman Umayyah adalah[6]:
1.
Dengan berpindahnya ibu kota ke Bagdad, pemerintah Bani Abbas menjadi jauh dari
pengaruh arab, sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab.
Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abaasiyyah, pengaruh kebudayaan
Persia sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa turki sangat
dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini.
2.
Dalam penyelenggaraan negara, pada Bani Abbasiyyah jabatan wazir, yang
membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan
Bani Umayyah.
3.
Ketentaraan profesional baru terbentuk pada maasa pemerintahan Bani Abbas,
sebelumnya belum ada tentara yang
profesional.
Kemunduran Daulah
Abbasiyah.
Faktor-faktor yang menjadi sebab kemunduran
Dinasti Abbasiyah adalah:
1. Pertentangan internal keluarga. Seperti
halnya al manshur melawan Abd Allah ibn Ali pamannya sendiri. Konflik ini yang
mengakibatkan keretakan psikologis yang mendalamdan menghilangkan solidaritas
keluarga, sehingga mengakibatkan campur tangan kekuatan dari luar.
2. Kehilangan kendali dan munculnya
dinasti-dinasti kecil. Dengan buaian gemilang harta dan kekuasaan yang mana
setiap orang akan lupa atas kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan, dengan
semua kekuatan dan berbagai macam cara akan dilakukan untuk mencapai kekuasaan.
Dan juga pada perdadana mentri seenaknya menggunakan kebijakan dari khalifah,
merekapun berturut-turut melakukan kekuatan dari luar. Dengan kekuatan dari
luar inii pun yang mengakibatkan kehancuran struktur kekuasaan dari dalam
kekhalifahn itu sendiri. Dengan lemahnya sistem pemerintahan pusat, sehingga
telah menggoda penguasa daerah utnuk melirik otonomisasi, seperti gubenur (amir)
yang berdomisili di wilayah barat kota Bagdad seperti Idrisyah, Fathimiyah,
Ummawiyah II, maupun yang berdomisili di Timur Bagdad, Tahiriyah, Samaniyah,
untuk tidak lagi taat kepada Khalifah pusat. Pada kekacauan ini Holagu Khan
keturunan dari Jengis Khan datang disertai dengan pasukan Tartar menghancurkan
Bagdad dan meruntuhkan Bani Abbasiyah.

0 comments:
Post a Comment