Tuesday, October 31, 2017

Dinasti Ummawiyah

pictured by


Dinasti Ummawiyah
Nama daulah Ummawiyah itu berasal dari nama “ Umaiyah ibnu “Abdi syams ibnu ‘Abdi Manaf” yaitu salah seorang pemimpin kabilah Quraisy dizaman Jahiliyah, dan ia selalu bersaing dan berusaha merebut kepemimpinan dan kehormatan Hasyim Abdi Manaf dikalangan masyarakat bangsanya. Pada keturunannya sangat menolak keras dengan ajaran nabi dan menolak dengan tegas kekhalifahan atau kepemimpinan nabi Muhammad SAW. Bani Ummawiyah baru masuk Islam setelah nabi Muhammad SAW dapat menaklukkan kota Mekkah. Sepeninggalan Rasulullah keturunan Ummawiyah, mereka sudah menginginkan kekhalifahan pengganti Rasulullah, tetapi mereka belum berani mengemukakan dirinya pada masa Khalifah Abu Bakar ash Shidiq dan Umar bin Afwan. Setelah wafatnya khalifah Umar bin Afwan, maka Bani Ummawiyah menyokong Ustman bin Afwan untuk dijadikan menjadi khalifah pengganti Umar, dengan hasil Musyawarah, sehingga berhasillah Ustman menjadi Khalifah pengganti Umar. Pada masa pemerintahan Ustman inilah Muawiyah mencurahkan seluruh kekuatannya untuk memperkuat dirinya dan menyiapkan kota Syam untuk dijadikan pusat kekuasaannya dikemudian harinya.
Ketika Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah menggantikan ustman, Muawiyah sebagai gubenur di Syam, membentuk golongan orang-orang yang menolak tegas perintah Khalifah Ali, dia pun mendesaknya untuk mengusut kematian Ustman bin Afwan. Desakan Muawiyah ini pun tumpah saat perang Sifiin, yakni pertempuran antara pihak Muawiyah dengan pihak Ali bin Abi Thalib. Pada perang ini pun terjadi genjatan senjata atau tahkim sehingga pihak Ali pun terbagi menjadi dua, yakni pihak syiah atau pengikut Ali, dengan pihak Khawarij atau penentang Ali, dan pihak Muawiyah itu sendiri. Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H salah seorang Khawarij membunuh Ali, sehingga dengan wafatnya Ali bin Abi Thalib ini berakhir pula masa pemerintahan Khalifaur Rasydin, dan menjadi jalan yang baik untuk Muawiyah melancarkan rencananya untuk dapat menjadi Khalifah. Pada tahun 661 M/41 H maka menjadi tahun persatuan (Am al Jama’ah) atau  tahun dimana Muawiyah melakukan sumpah jabatan yang dilakukan didepan dua putra Ali, yakni Hasan dan Husein, dan rakyat banyak.
Khalifah Dinasti Ummayah
Dinasti Ummaiyah ini yang berlangsung selama ±91 tahun, yakni dari tahun 41-132 H, yang diperintah sebanyak 14 khalifah yang beribukota di Damaskus. Pada periode Bani Umawiyah ini dibagi menjadi tiga bagian periode, yakni permulaan, keemasan, dan keruntuhan. Pada masa permulaan, yakni ditengarai meletakkan  dasar pemerintahan, pembunuhan Husein , perampasan kota Madinah, Penyerbuan Mekkah pada masa Yazid I, dan perselisihan diantara suku-suku Arab pada masa Muawiyah II. khalifah pada bani Ummawiyah, yakni:
1.      Muawiyah bin Abu Sufyan(40-60H)
2.      Yazid bin Muawiyah (60-63 H)
3.      Muawiyah II (63 H)
4.      Marwan bin Al Hakam (64-65H)
5.      Abdul Malik bin Marwan (65-86 H)
6.      Al Walid bin Abdul Malik(86-96 H)
7.      Sulaiman bin Abdul Malik(96-99 H)
8.      Umar bin Abdul Aziz(99-101 H)
9.      Yazid bin Abdul Malik( 101-105H)
10.  Hisyam bin Abdul Malik(105-125 H)
11.  Al Walid bin Yazid bin Abdul Malik(125 H)
12.  Yazid III(126 H)
13.  Ibrahim(126 H)
14.  Marwan bin Muhammad (128-132H)

Sistem Pemerintahan Pada Masa Daulah Ummayah
Dalam sistem kekuasaan pada masa Khulafaur Rasydun yang bermula demokrasi, dengan pemindahan ditangan Muawiyah berpindah menjadi monarki hereditis (kerajaan turun Menurun). Sikap ini pun diawali saat Muawiyah bin abu sufyan mengangakat anaknya Yazid untuk dijadikan menjadi Khalifah berikutnya. Sikap ini pun dipengaruhi oleh keadaan Syria, saat ia menjabat sebagai gubenur disana, yang dipengaruhi sistem Monarki heredatis di Persia dan kekaisaran Byzantium. Pada masa Muawiyah I dimulai perubahan-perubahan administrasi pemerintahan, mulai dari pasukan pengawal raja, mendirikan balai-balai pendaftaran dan juga menaruh perhatian atas jawatan pos yang menjadi suatu susunan yang teratur yang menghubungkan bagian negara. Seperti dewan Sekretaris Negara (diwan al kitabah) yang terdiri dari lima sekretaris, yakni; katib ar rasail, katib al kharaj, katib al jund, katib al syurthah, dan katib al qadhi’. Yang mana dari sekeretaris negara itu mengurus administrasi pemerintahan. Dan diangkat pula seorang amir untuk dijadikan pemimpin disetiap daerah. Pada Masa Abd. Malik ibn Marwan, yakni khalifah ke-5 , pelaksanaan pemerintahan dibagi menjadi beberapa pokok, yakni[4]; kementrian pajak tanah (Diwan al Kharaj) yang tugasnya mengawasi tugas Departemen Keuangan, kementrian pengesahan (Diwan Al Khatam) yang bertugas (Diwan Ar Rasail) untuk mengontrol permasalahan-permasalahan disetiap daerah, dan semua komunikasi dari para gubenur, kementrian urusan perpajakan (Diwan Al Mustaghalat).
Perluasan wilayah pada, kekuasaan bani Ummawiyah untuk daerah Timur dan juga Barat  mencapai kegemilangan pada masa Walid I  pada masa ini pun ada pemimpin pasukan terkemuka  sebagai penakluk yaitu Qutaybah ibn Muslim, Muhammad ibn Qasim, dan Musa ibn Nusayr. Didaerah Timur yang bisa ditaklukkan oleh bani Ummawiyah  yakni daerah Khurasan sampai ke Lahore di Pakistan, sedangkan di daerah Barat yakni ke arah Byzantium. sedangkan  pada masa Qutaybah bin Muslim, ia berhasil menaklukkan Balk, Bukhara, Khawarazm, Farghana, dan hara, Khawarazm, Farghana, dan Samarkhand. Sedangkan Muhammad Ibn Qasim melumpuhkan seluruh penjuru Sind hingga Maltan (pusat haji terkenal orang India, didekat Punjab). Untuk Musa ibn Nusayr yang melusakan daerah kekuasaannya di daerah Barat  yakni aljazair dan Maroko. Musa pun mengangkat Thariq bin Ziyad sebagai wakil utnuk memerintah bagian itu. Dengan didorong kemenangan di Afrika Utara dan karena adanya kerusuhan merebut kekuasaan dalam kerajaan Gothia di Spanyol. Setelah mendengarkan kemenagan Thaariq dalam menaklukkan Spanyol, pasukan Musa melebarkan kembali wilayah kekuasaan sampai ke Barcelona, Narbone, Cadiz, dan Calica, lalu ke selatan Prancis.
Prinsip keuangan yang dilakukan pada masa ini adalah mengikuti pada masa Khulaur Rasydun, yaitu dengan penetapan pajak tanah, dan pajak perorangan untuk setiap individu penghuni setiap daerah-daerah yang telah dikalahkan merupakan pemasukan sendiri bagi pemerintahan Bani Ummawiyah.  Hal ini pun untuk dapat kelancaran penggajian bala tentara dan juga untuk menybarkan syiar Islam.
Perkembangan Peradaban Pada Masa Dinasti Ummayah
Arsitektur
Beberapa hal yang menonjol dari arsitektur Bani Ummawiyah yakni pembangunan kota-kota baru dan kota-kota lama dengan gaya perpaduan persia, Romawi, dan Arab, dan juga  pada pembangunan  masjid-masjid, seperti di Masjid Damaskus atas kreasi arsitektur abu Ubaidillah ibn Jarrah , dengan gaya kubah-kubahnya yang berukuran besar berbentuk tapak besi kuda bulat, dan disekiling masjid terdapat empat mercusuar yang merupakan bangunan peninggalan Yahudi, tetapi empat mercusuar hanya digunakan satu mercusuar yang terletetak ditenggara masjid untuk Adzan.
Perdagangan
Untuk perdagangan pada masa Bani Ummawiyah ini ada beberapa jalur untuk mencapai kemajuan perekonomian, yakni melawati jalur darat dengan menggunakan Jalus Sutra ke Tiongkok untuk perdaganan jenis Sutra, keramik, obat-obatan, dan wewangian. Sedangkan yang lainnya yakni dengan jalur laut, untuk perdagangan rempah-rempah, bumbu, kasturi, permata, logam mulia, yang ini pun dominan ke arah negeri bagian Timur.
Runtuhnya Dinasti Ummawiyah
Pada tokoh pergerakan Abbasiyah yakni Ibrahim al Imam mengangkat Abu Muslim sebagai pemimpin di Khurasan, dan diberikan kekuasaan untuk melakukan propaganda secara terang-terangan, dan ia pun di beri kekuasaan untuk melakukan pembunuhan kepada Masyarakat yang berbahasa Arab dan juga yang dicurigai dapat menggagalkan misinya. Selama bertahun-tahun gerakan tersebut tanpa hambatan dari Dinasti Ummawiyah. Ketika surat perintah pembunuhan yang dikirimkan oleh Ibrahim al Imam kepada Abu Muslim jatuh kepada Marwan ibn Muhammad, bencana pun menimpa Ibrahim al Imam di tangkap dan dipenjarakan di Haran setelah mengangkat As Safah sebagai penggantinya. Ibrahim pun dibunuh 132 H, meskipun telah dibunuh, akan tetapi langkah dari Marwan ibn Muhammad terlambat, karena sudah dikuasai oleh pemberontak. Bahkan benteng-benteng Damaskus telah terpasang bendera hitam Abbasiyah telah dikibarkan. Begitu juga di Hijaz, Syam, dan Irak. Pemberontak syiah pun juga melanjutkan penyerbuan dari Khurasan hingga Irak, Syam, dan Mesir. Ia pun tewas terbunuh di mesir. Dengan wafatnya Marwan ibn Muhammad, maka berakhirlah kepemimpinan Dinasti Umawiyah.
Gerakan Perjalanan Dinasti Abbasiyah
Pemerintahan Dinasti Abbasiyah dapat dibagi dalam dua periode. Periode I adalah masa antara tahun 750-945 M, yaitu mulai pemerintahan Abu Abbas sampai al-Mustakfi. Periode II adalah masa 945-1258 M, yaitu masa al-Mu’ti sampai al-Mu’tasim. Pembagian periodisasi diasumsikan bahwa pada periode pertama, perkembangan diberbagai bidang masih menunjukkan grafik vertikal, stabil dan dinamis. Sedangkan pada periode II, kejayaan terus merosot sampai datangnya pasukan Tartar yang berhasil mengancurkan Dinasti Abasiyyah.
Pada Pemerintahan Abasiyyah periode I, telah mengembangkan kebijakan-kebijakan politik diantaranya adalah:
a.    Memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Bagdad
b.    Memusnahkan keturunan Bani Umayyah
c.    Merangkul orang-orang persia, dalam rangka politik memperkuat diri, Abasiyyah memberi peluang dan kesempatan yang besar kepada kaum Mawali
d.   Menumpas pemberontakan-pemberontakan
e.    Menghapus politik kasta 

Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Dinasti Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh wazir (perdana menteri) yang jabatannya disebut wizaraat. Wizaraat ini dibagi menjadi 2 yaitu: pertama, wizaraat tafwid (memliki otoritas penuh dan tak terbatas), waziraat ini memiliki kedaulatan penuh kecuali menunjuk penggantinya. Kedua, wizaraat tanfidz (memiliki kekuasaan eksekutif saja) wizaraat ini tidak memiliki inisiatif selain melaksanakan perintah khalifah dan mengikuti arahannya.

Sedangkan untuk Model pemerintahan yang diterapkan oleh Abasiyyah bisa dikatakan asimilasi dari berbagai unsur. Ini terlihat jelas dari adanya periodesasi atau tahapan pemerintahan Abasiyyah. Ciri-ciri yang menonjol pada masa pemerintahan Abasiyyah yang tidak terdapat di zaman Umayyah adalah[6]:
1.             Dengan berpindahnya ibu kota ke Bagdad, pemerintah Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh arab, sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abaasiyyah, pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini.
2.             Dalam penyelenggaraan negara, pada Bani Abbasiyyah jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah.
3.             Ketentaraan profesional baru terbentuk pada maasa pemerintahan Bani Abbas, sebelumnya belum ada tentara yang profesional.       

Kemunduran Daulah Abbasiyah.
 Faktor-faktor yang menjadi sebab kemunduran Dinasti Abbasiyah adalah:
1.      Pertentangan internal keluarga. Seperti halnya al manshur melawan Abd Allah ibn Ali pamannya sendiri. Konflik ini yang mengakibatkan keretakan psikologis yang mendalamdan menghilangkan solidaritas keluarga, sehingga mengakibatkan campur tangan kekuatan dari luar.
2.      Kehilangan kendali dan munculnya dinasti-dinasti kecil. Dengan buaian gemilang harta dan kekuasaan yang mana setiap orang akan lupa atas kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan, dengan semua kekuatan dan berbagai macam cara akan dilakukan untuk mencapai kekuasaan. Dan juga pada perdadana mentri seenaknya menggunakan kebijakan dari khalifah, merekapun berturut-turut melakukan kekuatan dari luar. Dengan kekuatan dari luar inii pun yang mengakibatkan kehancuran struktur kekuasaan dari dalam kekhalifahn itu sendiri. Dengan lemahnya sistem pemerintahan pusat, sehingga telah menggoda penguasa daerah utnuk melirik otonomisasi, seperti gubenur (amir) yang berdomisili di wilayah barat kota Bagdad seperti Idrisyah, Fathimiyah, Ummawiyah II, maupun yang berdomisili di Timur Bagdad, Tahiriyah, Samaniyah, untuk tidak lagi taat kepada Khalifah pusat. Pada kekacauan ini Holagu Khan keturunan dari Jengis Khan datang disertai dengan pasukan Tartar menghancurkan Bagdad dan meruntuhkan Bani Abbasiyah.

Dinasti Ummawiyah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 comments:

Post a Comment